InsightKurikulum · IB · International Baccalaureate

Dance, Computer Science, atau Economics: Apa Sebenarnya Arti Mata Pelajaran yang “Berguna”?

Hanifa Ambadar
Hanifa Ambadar
15 September 2026

Dear orang tua, kalau anak Anda di SMA wajib mengambil enam mata pelajaran, bolehkah salah satunya mata pelajaran Dance?

Saya selalu merasa diri saya termasuk orang tua yang cukup progresif. Saya percaya setiap anak punya potensi dan ketertarikan berbeda yang harus digali. Saya percaya pendidikan tidak harus melulu soal science, matematika, atau pelajaran-pelajaran yang kita anggap “serius”. Saya juga percaya seni itu penting dan anak perlu mendapatkan pendidikan yang seimbang.

Ngomongnya sih memang gampang. 

Sampai anak saya benar-benar harus memilih enam mata pelajaran untuk IB Diploma Programme-nya.

Pilihannya waktu itu: Ekonomi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Environmental Systems & Societies, Math… dan Dance.

Wait.

Dance? Dari enam mata pelajaran, satu slot mau dipakai untuk Dance?

Kalau untuk elective atau aktivitas ekstrakurikuler tentu saya tidak keberatan. Tapi kalau menjadi salah satu mata pelajaran utama selama dua tahun?

Mulailah keluar suara orang tua dalam diri saya.

Sayang nggak sih?

Kenapa nggak ambil Management saja? Computer Science? Psychology mungkin?

Apalagi ini SMA. Sebentar lagi kuliah. Pilihan mata pelajaran bisa berpengaruh pada pilihan jurusan dan universitas nantinya. Belum lagi tuition sekolah yang mahal. Rasanya setiap mata pelajaran harus benar-benar “kepake”.

Akhirnya saya memperbolehkan. Walaupun, harus saya akui, agak setengah hati.

Ternyata Dance bukan sekadar belajar menari

Sekarang anak saya sudah lulus SMA, dan setelah melihat prosesnya selama dua tahun, perspektif saya berubah cukup banyak tentang kelas Dance dan khususnya IB Dance.

Saya bahkan berani bilang bahwa IB Dance ternyata menjadi salah satu mata pelajaran paling well-rounded yang dia ambil.

Karena yang dipelajari ternyata jauh lebih banyak daripada gerakan dan koreografi.

Mereka belajar tentang culture dan global perspective. Bahwa sebuah tarian lahir dari konteks tertentu seperti budaya, sejarah, dan masyarakat, dan sebuah gerakan bisa membawa makna. Ada why dan cerita di balik apa yang mereka lakukan, bukan sekadar bagaimana membuat gerakan terlihat bagus.

Mereka juga belajar creative thinking. Harus menganalisis gerakan, mengeksplorasi konsep, menerjemahkan sebuah ide menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan orang lain.

Dan sebuah performance ternyata merupakan sebuah sistem kompleks yang harus dia pelajari.

Ada musik, gerakan, posisi setiap performer, kostum, lighting, makeup, ruang, sampai bagaimana semuanya terlihat dari perspektif audience. Semua elemen itu harus bisa bekerja bersama untuk menghasilkan sesuatu yang terasa utuh.

Anak belajar melihat satu karya dari berbagai perspektif: sebagai performer, sebagai choreographer, sebagai bagian dari sebuah grup, dan sebagai audience. Belajar empathy karena harus bisa memposisikan diri sebagai penonton.

It’s all about connecting the dots.

Bukan hanya melatih tubuh, tapi juga fokus

Salah satu manfaat yang berguna juga adalah the fact bahwa dance juga merupakan latihan fisik dan bagus untuk kesehatan mental. 

Selama dua tahun itu, dia otomatis punya waktu dalam jadwal sekolahnya untuk bergerak. Rehearsal berulang kali, melatih stamina, strength, coordination, flexibility, dan body awareness.

Tapi yang menarik buat saya, dance bukan hanya physical exercise. Ada latihan fokus yang sangat besar di dalamnya.

Ketika menari, kita harus benar-benar present. Memperhatikan gerakan tubuh sendiri, musik, hitungan, posisi di dalam ruang, dan pada saat yang sama tetap aware terhadap orang-orang yang bergerak di sekitar kita.

Dalam hal itu, dance bisa terasa sangat meditative. Pikiran tidak bisa ke mana-mana karena tubuh dan otak harus berada di tempat yang sama, pada saat yang sama.

Di tengah kehidupan anak-anak sekarang yang penuh screen, notifications, dan begitu banyak distraksi, saya jadi melihat kemampuan untuk benar-benar fokus pada satu hal sebagai skill tersendiri yang juga perlu dilatih.

Rehearse. Evaluate. Improve. Repeat.

Tapi salah satu hal yang paling menarik buat saya justru proses belajarnya.

Dance sangat reflective.

Mereka berulang kali melihat kembali gerakan dan performance mereka sendiri. Apa yang sudah bekerja? Apa yang belum? Bagian mana yang perlu diperbaiki? Apa yang harus dilakukan berbeda?

Lalu rehearsal lagi.

Evaluate lagi.

Improve lagi.

Repeat.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah proses development, testing, iteration, and refinement.

Dan proses seperti ini tidak hanya berlaku dalam dance.

Kita menggunakannya ketika menulis, membuat produk, membangun bisnis, mengerjakan penelitian, menyelesaikan masalah, bahkan dalam menjalani hidup.

Kemampuan untuk melihat hasil kerja sendiri dengan jujur, menerima bahwa sesuatu belum cukup baik, lalu memperbaikinya lagi dan lagi adalah life skill yang sangat penting. Proses yang sangat humbling dan juga mengajarkan anak untuk enjoying the process.

Ternyata ada leadership-nya juga

Ada satu project di mana anak saya harus membuat koreografi sendiri.

Tapi bukan hanya membuat gerakannya.

Dia harus mengajak adik-adik kelas untuk bergabung di grupnya, mengajarkan koreografi tersebut, mengatur latihan selama berbulan-bulan, memastikan semua orang tetap datang dan termotivasi, sampai akhirnya mereka tampil bersama.

Jadi sebenarnya dia sedang belajar leading and motivating other people.

Termasuk, apparently, belajar bahwa kadang-kadang cara menjaga motivasi anggota tim adalah dengan membelikan mereka bubble tea. 😅

Saya melihatnya dan berpikir: OMG, ini gue juga belum tentu bisa.

Karena membuat sesuatu sendiri adalah satu hal. Membuat sekelompok orang percaya pada ide kita, mau ikut mengerjakannya, dan bersama-sama membawa ide tersebut sampai selesai adalah kemampuan yang berbeda lagi.

Dia belajar melihat strength dan weakness dari setiap performer, bagaimana setiap orang bisa berkontribusi dengan caranya masing-masing, dan bagaimana membuat semuanya bergerak in harmony.

Dia belajar teamwork.

Mungkin saya salah mendefinisikan pelajaran yang “kepake”

Dari situ saya mulai berpikir tentang pertanyaan yang pertama kali muncul di kepala saya ketika melihat pilihan mata pelajarannya:

“Dance nanti kepake nggak?”

Apa sebenarnya definisi kepake?

Sering kali kita menilai sebuah mata pelajaran berdasarkan seberapa dekat hubungannya dengan pekerjaan atau jurusan kuliah di masa depan.

Belajar Economics terasa berguna karena mungkin nanti bekerja di bidang bisnis atau finance. Computer Science terasa berguna karena dunia semakin digital. Psikologi terasa berguna karena manusia akan selalu berhubungan dengan manusia.

Sementara Dance?

Kalau tidak mau menjadi dancer, buat apa?

Tapi kemudian saya sadar bahwa mungkin kita terlalu fokus pada apa yang dipelajari, dan kurang memperhatikan bagaimana sebuah mata pelajaran mengajarkan anak untuk berpikir.

Anak yang mengambil Psikologi tidak harus menjadi Psikolog.

Anak yang mengambil Economics tidak harus menjadi Economist.

Dan anak yang belajar Dance tidak harus menjadi dancer agar apa yang dipelajarinya tetap berguna.

Karena subject matter-nya memang Dance.

Tapi yang ikut terlatih adalah kemampuan mengobservasi, menganalisis, berkreasi, bekerja sama, berkomunikasi, memimpin, fokus, menerima feedback, mengevaluasi diri, berdisiplin, dan terus melakukan improvement.

Skills seperti itu bisa dibawa ke mana-mana.

Pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan sebuah pekerjaan

Saya sendiri adalah seorang big believer in being a generalist.

Bukan berarti anak tidak perlu punya keahlian atau mendalami sesuatu. Tapi saya percaya ada nilai besar dari memiliki exposure terhadap banyak hal: memahami berbagai perspektif, bisa menghubungkan hal-hal yang kelihatannya tidak berhubungan, beradaptasi ketika situasi berubah, dan belajar sesuatu yang baru ketika dibutuhkan.

Apalagi anak-anak kita akan memasuki dunia yang berubah sangat cepat.

Kita bahkan tidak tahu persis pekerjaan seperti apa yang akan ada 10 atau 20 tahun lagi. Pengetahuan teknis bisa berubah. Teknologi berubah. Industri berubah.

Karena itu, salah satu hal paling berharga yang bisa dibawa anak dari sekolah mungkin bukan hanya kumpulan hard skills, tetapi cara berpikir dan cara belajar.

Bagaimana mereka menghadapi sesuatu yang belum mereka kuasai.

Bagaimana mereka memecahkan masalah.

Bagaimana mereka bekerja dengan orang lain.

Bagaimana mereka menerima feedback.

Bagaimana mereka mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.

Dan bagaimana mereka menghubungkan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang mereka punya ketika menghadapi sesuatu yang baru.

Anak saya memang tidak ingin menjadi dancer. Dan saya juga tidak tahu apakah setelah lulus nanti dia akan menari lagi secara serius.

Tapi sekarang saya juga tidak merasa itu penting.

Karena mungkin, ketika anak memilih satu mata pelajaran yang membuat kita sebagai orang tua spontan berpikir, “Tapi ini nanti kepake nggak?”, pertanyaannya tidak selalu harus:

“Kamu mau jadi apa dengan pelajaran ini?”

Mungkin sesekali kita juga perlu bertanya:

“Pelajaran ini akan membantumu belajar menjadi seperti apa?”

Dan setelah dua tahun melihat anak saya belajar Dance, ternyata jawabannya jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan ketika pertama kali melihat enam pilihan mata pelajarannya.


The School Reports Takeaway
Mata pelajaran yang berguna tidak selalu yang paling dekat dengan jurusan kuliah atau pekerjaan tertentu. Terkadang, nilai terbesarnya terletak pada cara pelajaran itu membentuk anak: bagaimana ia berpikir, berkreasi, bekerja dengan orang lain, menerima feedback, dan terus memperbaiki diri. Jadi, ketika anak memilih pelajaran yang terasa kurang “praktis”, jangan hanya bertanya akan menjadi apa dengannya—tanyakan juga, pelajaran itu akan membantunya tumbuh menjadi pribadi seperti apa.
Artikel Terkait

Lanjutkan diskusinya di forum

Orang tua lain sedang membahas topik ini.

Belum ada diskusi tentang #Kurikulum & #IB.

Mulai diskusi pertama
Lihat semua diskusi tentang #Kurikulum & #IB
Bagikan artikel ini