Wawancara

Dari BSJ ke NYU Shanghai: Cerita Novita Imelda tentang Belajar Mendampingi Anak Memilih Jalannya Sendiri

TS
The School Reports
Editorial Writer
31 Agustus 2026 · 12 mnt baca

Memilih sekolah ketika anak masih kecil dan memilih universitas ketika anak mulai dewasa ternyata membutuhkan dua cara berpikir yang berbeda.

Ketika Maika masih kecil, Novita Imelda—atau Nopai—dan suaminya, Rudy Gunawan, melakukan apa yang dilakukan banyak orang tua: mencari sekolah dengan kualitas akademik yang baik, lingkungan yang tepat, serta kesempatan yang luas untuk berkembang.

Namun bertahun-tahun kemudian, setelah Maika menjalani pendidikan di British School Jakarta (BSJ) dan mulai menentukan pilihan universitas, peran mereka perlahan berubah.

Bukan lagi memilihkan. Tetapi membantu anak memahami pilihannya, memberikan perspektif ketika dibutuhkan, dan pada akhirnya memberi ruang bagi anak untuk menentukan jalannya sendiri.

Dalam edisi Interview Series The School Reports, kami berbincang dengan Nopai tentang perjalanan tersebut: bagaimana pengalaman pendidikan orang tua memengaruhi cara mereka memilih sekolah, mengapa keluarga akhirnya memilih BSJ, kapan percakapan tentang universitas mulai muncul, hingga bagaimana sebuah perjalanan ke Shanghai mengubah arah rencana pendidikan Maika.

Setiap orang tua membawa pengalaman sekolahnya sendiri

Sebelum membicarakan perjalanan pendidikan Maika, kami ingin memahami terlebih dahulu pengalaman pendidikan kedua orang tuanya.

Sebelum bicara soal Maika, apa latar belakang pendidikan Nopai dan Rudy sendiri?

Dari TK sampai SMA, latar belakang pendidikan kami relatif mirip. Kami sama-sama bersekolah di sekolah swasta Katolik dan dibesarkan di kota-kota seperti Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor.

Setelah itu jalurnya mulai berbeda. Saya melanjutkan ke Universitas Pelita Harapan (UPH), sedangkan Rudy masuk Universitas Indonesia (UI). Setelah bekerja beberapa tahun, Rudy kemudian melanjutkan S2 di Australian National University (ANU) Canberra melalui beasiswa.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa pengalaman pendidikan kita sebagai orang tua pasti memengaruhi cara kita melihat sekolah.

Padahal anak kita belum tentu membutuhkan pengalaman yang sama seperti kita.

Perjalanan sekolah Maika

Maika mulai mengikuti kegiatan sejak usia sekitar 10 bulan, lebih sebagai aktivitas yang berhubungan dengan gerak tubuh dan musik.

Pada usia tiga tahun ia mulai bersekolah di Royal Tots Academy, kemudian melanjutkan sampai Year 3 di Royal Primary Academy.

Saat Year 4, Maika pindah ke ACG Jakarta. Rencana awalnya adalah pindah ke British School Jakarta pada Year 7. Namun karena saat itu terjadi pandemi dan sebagian besar kegiatan sekolah masih berlangsung secara online, perpindahan tersebut akhirnya ditunda satu tahun.

Maika mulai bersekolah di BSJ pada Year 8.

Saat anak masih kecil, pertimbangannya sangat praktis

Kalau mundur ke saat pertama kali memilih sekolah untuk Maika, apa saja pertimbangan yang paling penting?

Pertimbangan pertama saya waktu itu adalah sekolah internasional yang menggunakan bahasa Inggris. Menurut saya, kemampuan berbahasa Inggris akan membuka lebih banyak perspektif dan peluang untuk Maika di kemudian hari.

Saya juga mencari sekolah yang tidak terlalu besar. Untuk anak TK dan SD, rasanya lebih nyaman kalau lingkungannya relatif terproteksi.

Lalu ada pertimbangan yang sangat praktis: jaraknya harus masuk akal, idealnya tidak lebih dari sekitar 30 menit, dan tentu saja biayanya harus sesuai dengan kemampuan kami saat itu.

Dulu kami juga melihat akademik, standar sekolah, fasilitas, dan pengalaman yang bisa diberikan kepada anak.

Tetapi ketika anak masih kecil, sebenarnya kita belum sepenuhnya tahu dia akan tumbuh menjadi anak seperti apa.

Jadi banyak keputusan awal memang didasarkan pada apa yang menurut kita sebagai orang tua terlihat sebagai “sekolah yang bagus.”

Ketika anak beranjak besar, definisi “sekolah yang bagus” ikut berubah

Seiring Maika bertambah besar, kriteria memilih sekolah pun ikut berubah.

Ketika Maika masih di sekolah dasar, Nopai berkomitmen mengantarnya sendiri setiap hari. Oleh karena itu, jarak lokasi sekolah menjadi bagian penting dari keputusan.

Ketika Maika memasuki sekolah menengah dan sudah bisa berangkat bersama sopir, bobot faktor tersebut mulai berkurang.

Apa yang berubah ketika Maika sudah mulai besar?

Sampai sekolah dasar saya masih mengantar Maika sendiri setiap hari. Jadi jarak sekolah dan bagaimana rutenya dari rumah ke sekolah lalu ke kantor sangat saya pertimbangkan.

Setelah Maika masuk sekolah menengah, jarak tidak lagi menjadi faktor sebesar sebelumnya.

Setelah kurang lebih delapan tahun bersekolah, kriteria kami juga mulai berubah. Fasilitas sekolah menjadi lebih penting, begitu juga lingkungan pergaulan dan bagaimana sekolah bisa membantu mempersiapkan Maika menuju universitas terbaik yang sesuai.

Saat itu, seperti apa definisi Nopai tentang “sekolah yang bagus”?

Buat saya waktu itu, sekolah yang bagus adalah sekolah dengan kurikulum yang sudah mapan dan diterima secara global, misalnya IB.

Fasilitasnya harus lengkap agar Maika punya ruang untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Pilihan ekstrakurikulernya beragam, kualitas gurunya baik, dan lulusannya banyak melanjutkan ke universitas yang bagus, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Namun pengalaman bertahun-tahun sebagai orang tua murid kemudian membuat saya melihat beberapa hal lain yang sebelumnya mungkin belum terlalu terpikirkan.

Ada kualitas sekolah yang baru terlihat setelah anak benar-benar menjalaninya

School tour bisa menunjukkan fasilitas. Situs sekolah bisa menjelaskan kurikulum. Daftar universitas tujuan alumni bisa memberi gambaran mengenai pencapaian akademik.

Tetapi beberapa kualitas sekolah baru terlihat setelah anak cukup lama berada di dalam komunitasnya.

Setelah Maika menjalani BSJ bertahun-tahun, apakah pandangan tentang “sekolah yang bagus” berubah?

Sedikit berubah. Definisi dasarnya mungkin masih sama, tetapi sekarang saya akan menambahkan pentingnya lingkungan yang beragam.

Menurut saya, berada di lingkungan yang beragam secara tidak langsung mempersiapkan anak menjadi global citizen dan membuat mereka lebih mudah beradaptasi.

Ada sekolah yang internasional dari sisi bahasa, kurikulum, atau gurunya, tetapi komposisi muridnya sendiri belum tentu beragam. Tentu ini kembali ke preferensi dari apa yang dicari masing-masing keluarga.

Selain itu, saya juga semakin melihat pentingnya cara belajar yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga membantu anak mengembangkan critical thinking, mempunyai kepercayaan diri untuk menyampaikan pendapat, serta tetap memiliki karakter dan sense of responsibility.

Bagi Nopai, kemampuan-kemampuan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat dunia yang semakin terkoneksi.

Menjadi bagian dari lingkungan global akhirnya bukan hanya perkara bahasa Inggris atau kurikulum internasional, tetapi juga bagaimana anak belajar berhadapan dengan perbedaan.


Percakapan tentang universitas ternyata dimulai jauh sebelum Year 12

Ketika anak mendekati akhir sekolah menengah, pusat pengambilan keputusan perlahan bergeser.

Pilihan yang sebelumnya sebagian besar dibuat oleh orang tua semakin banyak berada di tangan anak sendiri.

Kapan keluarga mulai serius membicarakan tentang persiapan kuliah?

Sebenarnya secara tidak sadar pembicaraan itu sudah dimulai sejak Year 8, ketika Maika pindah ke BSJ. Tetapi pembicaraan yang lebih serius baru mulai sekitar Year 9 menuju Year 10.

Selain mendapatkan dukungan dari konselor di sekolah, Maika juga mengikuti program mentoring dan university admission counseling secara mandiri.

Siapa yang awalnya lebih aktif mencari pilihan universitas?

Awalnya Rudy yang lebih aktif mencari sambil terus berdiskusi dengan Maika. Tetapi lama-kelamaan Maika mendapatkan semakin banyak informasi dan pengalaman, lalu mulai lebih aktif mengeksplorasi pilihannya sendiri.

Apa yang paling dipertimbangkan ketika mulai membuat shortlist universitas?

Maika termasuk anak yang cukup generalis. Tidak ada satu jurusan yang sejak awal sangat spesifik ingin dia ambil.

Karena itu, kami justru mulai dari negara mana yang menjadi pilihan. Setelah itu baru mencari universitas yang bagus dan sekaligus paling cocok untuk Maika.


Ketika pilihan anak berbeda dengan kenyamanan orang tua

Dalam proses memilih universitas, hampir pasti ada pilihan tertentu yang secara naluriah terasa lebih menarik bagi orang tua.

Nama universitas yang lebih familiar. Negara yang terasa lebih aman. Kota yang lebih dikenal.

Apakah Nopai dan Rudy pernah punya pilihan universitas yang sebenarnya lebih kalian inginkan daripada pilihan Maika?

Pernah. Saya rasa hampir semua orang tua punya itu.

Ada pilihan universitas yang secara nama lebih familiar, kota yang terasa lebih aman, atau kampus yang membuat kita sebagai orang tua lebih nyaman.

Tantangannya adalah menyadari bahwa rasa nyaman kita belum tentu sama dengan apa yang terbaik untuk anak.

Lalu muncul satu pilihan yang sebelumnya tidak berada di urutan teratas: Shanghai.

Shanghai skyline at night
Shanghai skyline at night

Bagaimana Shanghai masuk ke pertimbangan keluarga

NYU Shanghai mungkin bukan pilihan universitas yang langsung terpikirkan oleh banyak keluarga Indonesia.

Bagi keluarga Maika pun, arah pembicaraan awalnya lebih banyak mengarah ke Inggris.

Kapan NYU Shanghai pertama kali masuk radar?

Sekitar tahun 2024. Waktu itu Hanifa sedang melakukan perjalanan bisnis ke Shanghai dan bercerita bahwa Shanghai ternyata sangat modern dan maju. Dia kemudian bilang, “Ada NYU juga lho di Shanghai.”

Apalagi kami memiliki bisnis yang mempunyai relasi dengan perusahaan-perusahaan di China.

Dari situ kami mulai berpikir bahwa Mandarin mungkin akan menjadi bahasa yang semakin penting, lalu mulai mencari tahu lebih banyak tentang universitas di China.

Sebenarnya ketika Maika pertama kali masuk BSJ, pembicaraan kuliah masih lebih mengarah ke Inggris. Bahkan pemilihan mata pelajaran IB waktu itu masih dilakukan dengan rencana kuliah di Inggris.

Tetapi kemudian situasi dunia ikut berubah.

Pilihan negara yang relatif aman menjadi semakin penting bagi kami. Jadi ketika melihat ada universitas dengan reputasi global yang sangat baik, berlokasi di China, dan memiliki lingkungan akademik berbahasa Inggris, pilihannya terasa semakin menarik.

NYU Shanghai Visit
NYU Shanghai Visit

Mengunjungi Shanghai sebelum memutuskan kuliah di sana

Pada Desember 2024, Novita dan keluarga memutuskan mengunjungi Shanghai.

Tujuannya bukan hanya melihat NYU Shanghai, tetapi juga merasakan sendiri bagaimana kehidupan di kota tersebut.

Apa yang kalian temukan setelah sampai di Shanghai?

Kami memang sengaja merencanakan perjalanan ke Shanghai. Selain mengunjungi NYU Shanghai, kami ingin memahami bagaimana kehidupan di sana dan mengukur kira-kira seberapa mudah atau sulit Maika beradaptasi.

Sebelumnya kami cukup sering mendengar cerita negatif tentang China—tentang kebersihan, aturan, maupun masyarakatnya.

Tetapi kunjungan selama dua minggu di Shanghai justru sangat berkesan dan menyenangkan.

Musim dinginnya tidak terlalu ekstrem. Makanannya cocok dan relatif terjangkau. Infrastruktur, jalanan hingga toiletnya tertata rapih dan sangat bersih.

Shanghai terasa seperti kota yang masih mempertahankan kultur tetapi sekaligus sangat maju.

Apakah mengikuti school tour saat mengunjungi NYU Shanghai?

Kami daftar dan mengikuti school tour. Kebetulan turnya terasa seperti private tour karena hanya ada dua keluarga, total enam orang. Pemandu kami adalah mahasiswa internasional yang sudah sekitar tiga setengah tahun berada di NYU Shanghai.

Dia sangat antusias menceritakan kampus, lingkungan, dan kehidupan di asrama.

Menurut saya kombinasi pengalaman itulah yang akhirnya membuat ketertarikan Maika terhadap NYU Shanghai semakin besar.

NYU Shanghai Campus Tour
NYU Shanghai Campus Tour

Apa reaksi pertama Nopai dan Rudy ketika Maika mulai serius mempertimbangkan Shanghai?

Senang, tentunya. Salah satunya karena jaraknya relatif dekat.

Sepertinya memang sejak Maika kecil mamanya tidak pernah terlalu bisa jauh dari anak—bahkan pemilihan sekolah dulu banyak dipengaruhi oleh jarak.

Selain itu, NYU juga merupakan universitas global, jadi kami merasa proses adaptasinya seharusnya tidak terlalu sulit.

Proses aplikasi Early Decision (ED) yang mempercepat semuanya

NYU Shanghai akhirnya menjadi satu-satunya universitas yang didaftarkan secara formal oleh Maika.

Bukan karena keluarga tidak mempertimbangkan pilihan lain.

Namun karena Maika memilih jalur Early Decision - skema pendaftaran awal yang sifatnya mengikat, sehingga siswa berkomitmen untuk masuk apabila diterima —proses pencarian universitasnya berhenti lebih cepat. Ia sudah mendapatkan keputusan penerimaan sebelum sebagian besar pendaftaran universitas lain selesai diproses.

Selain NYU Shanghai, sebetulnya University of Sydney dan University of Melbourne sempat menjadi alternatif setelah keluarga mengunjungi Australia.

Rudy juga sempat mengusulkan Singapura, tetapi langsung ditolak oleh Maika.

Pada titik ini, proses memilih pendidikan terasa sangat berbeda dibandingkan ketika anak masih berusia tiga atau empat tahun.

Orang tua tetap mempunyai perspektif, kekhawatiran, dan preferensinya sendiri. Tetapi keputusan itu tidak lagi sepenuhnya milik mereka.

Orang tua juga harus belajar mundur

Pembicaraan tentang university application sering kali berpusat pada hal-hal teknis: nilai, pilihan jurusan, esai, recommendation letter, deadline, hingga acceptance rate.

Tetapi ada proses lain yang berjalan bersamaan di dalam keluarga.

Orang tua belajar melepaskan sebagian kontrol. Ketika anak masih kecil, banyak keputusan memang harus dibuatkan.

Kita menentukan sekolahnya, lingkungan belajarnya, aktivitasnya, bahkan sering kali jadwal kesehariannya.

Tetapi semakin anak dewasa, pola tersebut perlahan perlu berubah.

Peran orang tua bukan lagi membuat semua keputusan yang “benar”, melainkan membantu anak belajar membuat keputusan yang semakin baik untuk dirinya sendiri.

Dan mungkin itulah salah satu bagian pendidikan yang tidak pernah tertulis dalam kurikulum sekolah.


The School Reports Interview Series adalah rangkaian percakapan dengan orang tua, pendidik, siswa, dan berbagai sosok di dunia pendidikan untuk menggali pengalaman, pertimbangan, dan pelajaran di balik keputusan pendidikan yang mereka jalani. Melalui cerita nyata dan perspektif personal, seri ini membantu keluarga melihat pilihan pendidikan dengan lebih utuh.

The School Reports Takeaway
Memilih pendidikan bukan keputusan yang statis. Kriteria yang terasa penting ketika anak masih kecil dapat berubah seiring usia, karakter, dan kebutuhan anak semakin terlihat. Pada akhirnya, peran orang tua bukan selalu menemukan pilihan yang paling “baik” menurut mereka, tetapi membantu anak memahami pilihannya dan belajar mengambil keputusan yang baik untuk dirinya sendiri.
Bagikan artikel ini