Mengapa Biaya Sekolah di Indonesia Terus Naik?

Buat orang tua, apalagi yang baru mulai menyekolahkan anak pertamanya, ada satu tema percakapan yang selalu ramai menjelang tahun ajaran baru:
“Uang pangkal dan SPP tahun depan naik lagi.”
Kadang 3 persen, 5 persen, atau bahkan lebih. Belum lagi uang kegiatan, buku, transportasi, seragam, field trip, ujian, dan biaya lain yang tidak selalu terlihat ketika pertama kali kita melihat tuition fee.
Buat keluarga yang anaknya sudah bersekolah, pindah pun tidak sesederhana membandingkan harga. Anak sudah punya teman, nyaman dengan guru, dan keluarga sudah membangun komunitas.
Jadi, kenapa biaya sekolah terus naik?
Sekolah adalah organisasi dengan biaya yang terus berjalan
Ketika membayar sekolah, kita tidak hanya membayar ruang kelas dan beberapa jam pelajaran setiap hari.
Sekolah harus membiayai guru dan tenaga kependidikan, bahan pembelajaran, teknologi, keamanan, listrik, pemeliharaan, administrasi dan fasilitas. Standar Pembiayaan nasional sendiri membedakan biaya pendidikan menjadi biaya investasi dan biaya operasional, termasuk lahan, sarana-prasarana, SDM, personalia dan berbagai biaya non-personalia.
Tetapi ada satu hal yang membuat sektor pendidikan berbeda dari banyak industri lain: sebagian besar proses dan nilainya masih sangat bergantung pada manusia.
Teknologi bisa membuat banyak industri jauh lebih efisien. Sekolah tidak bekerja seperti itu.
Seorang guru yang mengajar 20 anak tetap perlu membaca pekerjaan siswa, menjawab pertanyaan, merancang pembelajaran, berbicara dengan orang tua dan memperhatikan perkembangan masing-masing anak.
Kalau sekolah meningkatkan ukuran kelas dari 20 menjadi 40 siswa demi efisiensi, yang berubah bukan hanya biayanya. Pengalaman belajar anak juga ikut berubah.
Karena itu, mempertahankan rasio guru-siswa, memberikan kompensasi yang layak, dan merekrut tenaga pendidik yang baik memang membutuhkan biaya.
Yang kita harapkan dari sekolah juga semakin banyak
Berbeda dengan dua-tiga dekade lalu, sekolah tidak lagi hanya diharapkan mengajarkan matematika, bahasa dan IPA.
Orang tua sekarang juga mencari counsellor, learning support, university counselling, olahraga, seni, coding, well being coach, aktivitas extracurricular, sampai sistem komunikasi digital dengan orang tua. Semuanya membutuhkan orang, fasilitas dan sistem.
Oleh sebab itu, kenaikan biaya sekolah tidak selalu berarti “hal yang sama sekarang menjadi lebih mahal”. Karena memang kita membeli layanan yang lebih banyak dibanding jaman kita atau generasi sebelumnya.
Pertanyaannya: apakah semua tambahan tersebut benar-benar memberikan nilai tambah bagi anak atau jangan-jangan hanya menjadi kompetisi fasilitas dan program antar-sekolah?
Tidak semua kenaikan biaya membuat pendidikan anak lebih baik
Lapangan olahraga, auditorium, laboratorium dan studio seni paling mudah terlihat ketika kita melakukan tur sekolah. Tetapi biaya fasilitas tidak berhenti ketika gedung selesai dibangun.
Ada pemeliharaan, renovasi, listrik, penggantian aset dan investasi lahan atau bangunan. Standar Pembiayaan pendidikan memang memasukkan lahan dan sarana-prasarana ke dalam komponen biaya investasi.
Ada pula biaya yang lebih jarang terlihat: biaya modal. Jika kampus disewa atau dibangun dengan pembiayaan, biaya properti dan financing secara logis juga dapat menekan institusi.
Di sinilah penting membedakan dua hal.
Kenaikan biaya karena sekolah meningkatkan kompensasi guru atau menambah learning support tidak sama dengan kenaikan biaya karena sewa gedung atau biaya pembiayaan meningkat.
Keduanya mungkin sama-sama biaya nyata. Tetapi dampaknya terhadap pengalaman belajar anak berbeda.
Tidak semua biaya yang harus ditanggung sekolah otomatis menciptakan nilai edukasi yang lebih besar.
Sekolah internasional memiliki lapisan biaya tambahan
Sekolah yang menggunakan program internasional memiliki biaya-biaya tambahan diluar dari biaya umum yang ditemukan di sekolah-sekolah pada umumnya.
IB World Schools misalnya harus membayar annual fee untuk menjalankan program IB, disertai biaya lain terkait assessment dan layanan tertentu. Cambridge International juga mengenakan annual programme fees dan biaya ujian per siswa untuk sejumlah kualifikasi.
Bukan berarti IB atau Cambridge otomatis membuat sekolah mahal. Tetapi sekolah seperti ini memang dapat mempunyai lapisan biaya lain yang tidak dimiliki semua sekolah.
Dan ada satu faktor yang jarang dibicarakan: bisnis dan pasar
Sekolah swasta juga berada dalam sebuah pasar. Kalau sebuah sekolah mempunyai reputasi kuat, waiting list panjang dan permintaan yang tetap tinggi meskipun biaya naik, tekanan untuk menahan harga tentu berbeda dibanding sekolah yang masih berjuang mengisi kursi. Ini adalah prinsip dasar supply and demand.
Struktur penyelenggara sekolah juga beragam: mulai dari yayasan dan organisasi bermisi sosial atau keagamaan hingga sekolah dalam kelompok usaha atau yang mendapat dukungan investasi untuk berekspansi.
Di titik ini, orang tua perlu memahami satu hal: tidak seluruh kenaikan tuition harus diasumsikan sebagai kenaikan “biaya pendidikan”.
Investasi yang ditanam pada sebuah usaha mempunyai ekspektasi pengembalian. Ekspansi, pembangunan kampus, pembiayaan aset dan return atas modal dapat menjadi bagian dari economic equation sebuah operator pendidikan.
Keuntungan bukan sesuatu yang otomatis salah. Sekolah swasta juga perlu berkelanjutan secara finansial.
Tetapi bagi orang tua, pertanyaannya tetap relevan untuk ditanyakan:
Dari kenaikan yang kami bayar, apa yang benar-benar berubah dalam pendidikan anak?
Karena harga dan kualitas tidak selalu bergerak bersama.
Yang paling terasa adalah efek compounding
Kita ambil contoh sebuah sekolah yang SPP nya Rp 5 juta per bulan dan naik 7 persen setiap tahun.
Tahun berikutnya menjadi Rp 5,35 juta. Lima tahun kemudian sekitar Rp 7 juta. Sepuluh tahun kemudian mendekati Rp 9,8 juta per bulan.

Tanpa disadari, dalam sepuluh tahun, SPP naik hampir dua kali lipat.
Itulah efek compounding yang harus diantisipasi orang tua: kenaikan berikutnya dihitung dari biaya yang sudah naik, bukan dari angka awal Rp 5 juta. Dan ini baru SPP.
Oleh karena itu, ketika memilih sekolah, pertanyaannya sebaiknya tidak berhenti pada:
“Apakah kami mampu membayar sekolah ini sekarang?”
Tetapi juga:
“Kalau biaya terus naik, apakah sekolah ini masih masuk akal untuk kondisi keluarga kami dalam lima atau sepuluh tahun ke depan?”
Karena biaya sekolah bukan hanya SPP
Total pengeluaran bisa mencakup uang pangkal, SPP, annual fee, buku, teknologi, seragam, transportasi, kegiatan, field trip, ekstrakurikuler hingga ujian.
Dua sekolah dengan SPP yang terlihat sama belum tentu memiliki total biaya tahunan yang sama.
Di The School Reports, kami melihat transparansi biaya sebagai bagian penting dari keputusan memilih sekolah.
Orang tua seharusnya bisa mengetahui bukan hanya “berapa SPP-nya?”, tetapi juga “berapa biaya realistis yang perlu dikeluarkan untuk menjalani satu tahun di sekolah tersebut?”
Bagaimana cara menilai apakah kenaikannya masuk akal?
Pertama, lihat polanya.
BPS memiliki indeks dan inflasi khusus kelompok pendidikan. Tetapi angka agregat tersebut tidak bisa dipakai satu-satu untuk menilai tuition satu sekolah swasta tertentu.
Yang lebih berguna adalah melihat sejarah sekolah itu sendiri: berapa rata-rata kenaikannya dalam tiga sampai lima tahun terakhir?
Satu kali kenaikan tinggi mungkin mempunyai alasan khusus. Tetapi kenaikan 7–10 persen yang terjadi hampir setiap tahun menghasilkan dampak compounding yang sangat berbeda.
Kedua, kalau kenaikannya material, tanyakan apa yang berubah secara material.
Bukan hanya: “Kenapa SPP naik?”
Tanyakan: Apa yang berubah dalam struktur biaya atau layanan sekolah sehingga membutuhkan kenaikan sebesar ini?
Jika alasannya kualitas guru, apakah kompensasi atau jumlah guru berubah? Jika fasilitas, apa yang benar-benar ditambah? Jika inflasi, komponen biaya mana yang paling terdampak?
Jika kenaikannya besar tetapi jawabannya selalu berhenti pada “penyesuaian biaya operasional”, orang tua punya alasan yang sah untuk menggali lebih jauh.
Ketiga, lihat apa yang menjadi lebih baik untuk anak.
Apakah angka retensi guru membaik? Learning support bertambah? Ukuran kelas terjaga? Konselor lebih mudah diakses?
Pertanyaannya tidak melulu “apa yang baru?”, tetapi “apa yang menjadi lebih baik?”
Orang tua juga tidak harus bertanya sendirian
Komite Sekolah secara formal merupakan lembaga mandiri yang beranggotakan antara lain orang tua/wali, komunitas sekolah dan tokoh masyarakat. Regulasi memberi Komite Sekolah fungsi memberikan pertimbangan terhadap kebijakan sekolah, melakukan pengawasan terhadap pelayanan pendidikan, serta menampung dan menindaklanjuti aspirasi komunitas sekolah.
Bukan berarti Komite Sekolah otomatis berhak mengaudit seluruh pembukuan sekolah atau menentukan harga tuition.
Ada perbedaan mendasar antara meminta sekolah membuka seluruh laporan keuangan dan meminta penjelasan yang wajar mengenai kenaikan biaya yang harus ditanggung banyak keluarga.
Dan di sini menurut kami perlu ada batas yang lebih tegas.
Jika kenaikan biaya material terjadi berulang kali, sementara sekolah terus menolak memberikan penjelasan yang masuk akal, tidak menyediakan ruang dialog, atau Komite Sekolah tidak dapat menjalankan fungsinya untuk menyampaikan aspirasi orang tua, itu layak diperlakukan sebagai red flag dalam transparansi sekolah.
Hal ini tidak otomatis berarti sekolah tersebut tidak baik. Tetapi untuk komitmen finansial selama bertahun-tahun, keterbukaan mengenai arah biaya adalah bagian dari kepercayaan.
Yang kita butuhkan bukan sekolah yang tidak pernah menaikkan biaya
Ada harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Guru perlu mendapat kompensasi yang baik. Sekolah perlu dirawat. Program perlu dikembangkan. Kualitas membutuhkan investasi.
Rasanya tidak realistis mengharapkan biaya pendidikan yang tidak pernah naik.
Tetapi semakin besar komitmen finansial yang diminta dari keluarga, semakin penting transparansi mengenai apa yang sebenarnya dibayarkan.
Idealnya, ketika memilih sekolah, orang tua tidak hanya bisa membandingkan SPP tahun ini, tetapi juga total biaya tahunan, sejarah kenaikan tiga sampai lima tahun, biaya tambahan, dan seberapa predictable biaya tersebut sampai anak lulus.
Karena pertanyaan yang paling berguna bukan sekadar:
“Mengapa sekolah ini mahal?”
Melainkan:
Apa yang sebenarnya kami dapatkan dari biaya tersebut? Dan apakah nilainya sesuai untuk anak dan keluarga kami?
Seperti banyak keputusan tentang pendidikan, jawabannya tidak akan sama untuk setiap keluarga.
Yang penting, kita memiliki informasi yang cukup untuk menilainya supaya keluarga dapat membuat perencanaan yang lebih matang.
Artikel ini ditulis oleh Rizky Muhammad, Co-Founder - The School Reports
Lanjutkan diskusinya di forum
Orang tua lain sedang membahas topik ini.
Belum ada diskusi tentang #Biaya Sekolah & #SPP.
Mulai diskusi pertama
